Outing class kami kali ini mengunjungi stasiun Bogor, sesuai tema Mengenal alat Transportasi. Akhirnya kami naik kereta dari stasiun Depok menuju ke stasiun Bogor. Sesampai di Stasiun Bogor kami di sambut oleh kepala stasiun. Anak-anak pun akhirnya dapat melihat kegiatan yang ada di sekitar stasiun, bagaimana cara kerja para karyawan di stasiun. Anak-anak pun kami beri kesempatan untuk mengadakan wawancara langsung dengan para karyawan di stasiun, tanya jawab pun berlangsung cukup heboh.....heboh ?? yup, ternyata anak-anak mempunyai rasa ingin tau yang cukup besar tentang cara mengoprasikan kereta api. Pengalaman yang cukup menarik bukan ? Field Trip (Outing) Yaitu proses pembelajaran dimana anak-anak belajar di luar kelas, baik berupa kunjungan ke tempat
terbuka maupun di dalam ruangan dengan tujuan tempat yang mempunyai
nilai edukasi yang cukup baik. Adanya field trip ini siswa menjadi tidak
jenuh dengan pembelajaran yang berada di kelas, siswa dapat langsung
mempraktekkan dan melihat secara langsung, dan siswa dapat menambah
wawasan yang lebih luas dan menambah pengetahuan tentang hal- hal yang
tidak diberikan di kelas. Field Trip ini dilakukan sekali dalam sebulan
setiap masing- masing tingkatan baik TK, SD, SMP, dan SMA. Kunjungan Field
Trip bisa mengunjungi museum untuk melihat benda peninggalan sejarah,
mengunjungi pabrik untuk melihat proses pembuatan suatu produk, Taman
buah mekar sari, PT Indomobil, kebun wisata pasir mukti, kebun raya
Bogor, Seaworld, Lipi, Kampung Sunda, Outbond Holic, dan Stasiun Radio.
Total Tayangan Halaman
Mengenai Saya
- Belajar Sambil Bermain
- Saya hanya seorang guru dan ibu dari 2 orang anak yang ingin berbagi pengalaman dari sedikit ilmu yang saya punya, semoga bermanfaat.
Kamis, 30 November 2017
Meronce Rantai dari kertas Origami
Ayah Bunda, kegiatan hari ini Ananda membuat roncean rantai dari kertas origami. Merangkai
dan meronce dapat ditujukan untuk melatih kreativitas, yaitu dengan
cara mengubah fungsi lama menjadi fungsi baru. Seni merangkai ini lebih
cendrung dikatakan sebagai seni bentuk dengan teknik merangkai dan
meronce. kali ini saya memilih media meronce menggunakan kertas origami, dimana Ananda terlebih dahulu mempersiapkan bentuk yang akan di rangkai satu persatu. Kertas origami terlebihn dahulu di lipat menjadi 4 bagian kemudian ananda diminta untuk mengguntingnya hingga menjadi kertas berukuran persegi panjang, selanjutnya Ananda sudah bisa memulai merangkainya satu persatu kertas origami hingga menjadi sebuah rantai panjang. Menyenangkan sekali bekerja sama merangkai satu persatu kertas hingga menjadi bentuk yang kami inginkan juga warna-warna yang menarik dari kertas origami itu sendiri.
Senin, 27 November 2017
Melipat, menempel kertas origami "IKAN"
Kegiatan kita kali ini membuat ikan dari lipatan kertas origami. Kegiatan kali ini mencakup :
1. Melipat kertas
2. Menempel
3. Menggambar dan Mewarnai
Pada awalnya memang anak akan merasa kesulitan dalam hal melipat kertas, butuh dan ketekunan dan kesabaran. Akan tetapi anak akan tertantang untuk menyelesaikan tugas walau terkadang ada keluhan "tidak bisa" Memberi semangat adalah salah satu kunci agar anak percaya diri bahwa dia bisa membuatnya , soal hasil jangan di pertanyakan yang terpenting anak mengetahuin proses pembuatan, mengerti dan memahami serta menyelesaikannya.so.....buat anak senyaman mungkin untuk dapat menyelesaikannya.
Tujuan dan manfaat kegiatan kali ini :
1. Anak belajar meniru/mengikuti arahan
Ketika seorang anak mengikuti tahap demi tahap lipatan dengan baik, maka sebenarnya ia telah belajar bagaimana mengikuti petunjuk dan arahan baik dari orang tua, instruktur, maupun dari gambar/foto origami. Dari sanalah ia belajar membuat sesuatu dari cara yang paling mendasar yakni meniru.
2. Anak belajar berkreatifitas
Origami memang dunia kreatifitas. Begitu banyak model origami, baik model tradisional maupun model dari karya-karya terbaru. Seorang anak tinggal memilih model apa dan mana yang ia sukai. Seiring dengan itu, jika anak sudah mulai mahir melipat dan sudah banyak model yang ia lipat, maka pada saat tertentu nanti akan muncul gagasan ingin membuat sesuatu dari teknik-teknik lipatan yang telah dikenalnya. Ini artinya ia belajar berkreasi untuk menghasilkan sesuatu.
3. Anak belajar berimajinasi
Model origami biasanya juga merupakan miniatur dari makhluk dan benda-benda kebutuhan hidup. Modelnya merupakan hasil dari imajinasi para pembuatnya. Ada model-model yang sangat jelas atau sangat natural dari bentuk-bentuk atau model-model kehidupan. Namun ia juga kadang begitu abstrak sehingga lebih diperlukan imajinasi yang kuat untuk menangkapnya. Seorang anak akan belajar berimajinasi melalui origami ini. Apalagi ketika ia telah mencoba berkreasi dengan sesuatu bentuk yang baru tanpa meniru atau mengikuti diagramnya.
4. Anak belajar berkarya (seni)
Origami adalah seni melipat kertas, sehingga ketika seorang anak membuat origami berarti ia telah belajar berkarya (seni). Seni di sini bisa diartikan dalam dua hal, yakni pertama seni melipatnya (teknik dan cara melipatnya, prosesnya pada setiap tahapan, dsb), yang kedua adalah modelnya itu sendiri yang menjadi karya seni. Hasil karya origami jelas dapat dimasukkan dalam seni visual (visual art). Penggunaan jenis ragam dan warna kertas akan menjadikan model yang juga berbeda, termasuk komposisi yang diinginkannya.
5. Anak belajar menghargai/mengapresiasi
Bicara soal karya dan seni, tentu tidak lepas dari kata apresiasi dan penghargaan. Mempraktekkan origami berarti juga belajar mengapresiasi sebuah cabang karya seni dari seni visual. Seorang anak ketika berorigami berarti juga akan belajar mengapresiasi seni dan keindahan sejak dini, artinya ia juga belajar kehalusan jiwa.
6. Anak belajar membuat model
Origami adalah melipat kertas untuk membuat suatu model. Maka ketika seorang anak berorigami, ia sedang belajar membuat dari selembar kertas (atau lebih) menjadi sebuah model sesuai dengan kemampuan dan kesukaannya. Model dalam origami sangatlah banyak dan terus berkembang seiring dengan karya-karya baru yang dihasilkan oleh para pelipat. Namun model origami yang disukai anak biasanya adalah model origami tradisional yang berupa mainan (miniatur) binatang, pesawat (anak laki-laki), rumah dan alat rumah tangga (anak wanita) dan sebagainya. Model origami untuk anak ini, biasanya terdiri dari lipatan sederhana dengan sedikit tahapan dalam diagramnya. Namun tidak menutup kemungkinan, seorang anak yang telah banyak mencoba jenis lipatan akan bisa membuat model origami yang mempunyai tingkat kesulitan tinggi. Semakin banyak mencoba jenis lipatan, seorang anak tentu dapat membuat model origami lebih banyak lagi.
7. Anak belajar membuat mainannya sendiri
Banyak model origami yang dapat digunakan untuk bermain anak, misalnya kodok lompat, piring terbang, bola besar, pesawat-pesawat terbang, perahu, kuda berputar, suara tembakan, baling-baling, model peralatan rumah mulai lemari, kursi, meja dipan, dan lain-lain. Model-model itu umumnya dapat cukup dibuat dari selembar kertas saja. Untuk model tertentu yang berukuran besar bisa menggunakan kertas koran, seperti untuk membuat topi, bola besar, pesawat dan lain-lain. Perlu digaris-bawahi bahwa dalam berorigami, melipatnya itu sendiri adalah bagian dari bermain, setelah menjadi model, juga dapat dimainkan baik sendiri atau bersama.
8. Anak belajar membaca diagram/gambar
Belajar origami, selain melalui bimbingan seorang guru atau instruktur, dapat pula melalui animasi atau melalui diagram dari sebuah buku origami. Jadi seorang anak dapat membuat origami dengan mengikuti diagram yang ada dalam buku, meski harus dipilih dan disesuaikan dengan tingkat kemampuannya. Ini diharapkan agar anak tidak kesulitan untuk menyelesaikannya. Bahkan dianjurkan, bila kemampuan sang anak masih tahap pemula, baiknya senantiasa didampingi orang dewasa, agar ketika mendapat kesulitan ada yang membantu untuk menyelesaikannya. Yang pasti, semakin sering anak berlatih melalui diagram-diagram yang ada, maka akan meningkat pula kemampuan membaca diagramnya termasuk pengenalan terhadap jenis lipatan yang digunakan. Proses membaca diagram akan merangsang logikanya untuk memikirkan rangkaian tahapan hingga selesai.
9. Anak belajar menemukan solusi bagi persoalannya
Sebuah diagram origami terdiri dari beberapa tahapan, dimana setiap tahapannya merupakan rangkaian persoalan-persoalan lipatan yang beraneka ragam. Ketika seorang anak membuat origami dengan cara mengikuti alur sebuah diagram, sebetulnya dia sedang menghadapi persoalan pada setiap tahapan diagram itu. Bilamana dia berhasil mengikuti tahap demi tahap, artinya ia dapat menyelesaikan persoalan origami. Pada saat seperti itu, untuk anak umur tertentu akan berjalan logikanya, bagaimana mengikuti, membaca gambar, dan menyelesaikan persoalan-persoalan itu. Bahkan jika sudah mulai membuat karya sendiri, ia akan berusaha mencari solusi, hingga berhasil membentuk sebuah model origami yang diharapkan. Tentu ini latihan yang sangat baik bagi anak untuk belajar memecahkan persoalannya.
10. Anak belajar perbandingan (proporsi) dan berfikir matematis
Satu di antara yang sangat menentukan keindahan model origami adalah yang disebut dengan proporsi bentuk (perbandingan bentuk). Mengapa model ini atau itu mirip bentuk tertentu adalah karena teori proporsi. Tingkat keindahan sebuah model origami (meski sudah jelas modelnya) adalah juga sangat terletak pada proporsi ini. Di sisi lain jenis lipatan origami tradisional umumnya merupakan jenis lipatan berdasarkan teori matematis, artinya bukan asal lipatan (berbeda dengan banyak teknik untuk model-model kontemporer). Dengan demikian, aktifitas origami dapat membimbing seorang anak untuk mengenal konsep perbandingan bentuk dan sekaligus konsep matematis.
1. Melipat kertas
2. Menempel
3. Menggambar dan Mewarnai
Pada awalnya memang anak akan merasa kesulitan dalam hal melipat kertas, butuh dan ketekunan dan kesabaran. Akan tetapi anak akan tertantang untuk menyelesaikan tugas walau terkadang ada keluhan "tidak bisa" Memberi semangat adalah salah satu kunci agar anak percaya diri bahwa dia bisa membuatnya , soal hasil jangan di pertanyakan yang terpenting anak mengetahuin proses pembuatan, mengerti dan memahami serta menyelesaikannya.so.....buat anak senyaman mungkin untuk dapat menyelesaikannya.
Tujuan dan manfaat kegiatan kali ini :
1. Anak belajar meniru/mengikuti arahan
Ketika seorang anak mengikuti tahap demi tahap lipatan dengan baik, maka sebenarnya ia telah belajar bagaimana mengikuti petunjuk dan arahan baik dari orang tua, instruktur, maupun dari gambar/foto origami. Dari sanalah ia belajar membuat sesuatu dari cara yang paling mendasar yakni meniru.
2. Anak belajar berkreatifitas
Origami memang dunia kreatifitas. Begitu banyak model origami, baik model tradisional maupun model dari karya-karya terbaru. Seorang anak tinggal memilih model apa dan mana yang ia sukai. Seiring dengan itu, jika anak sudah mulai mahir melipat dan sudah banyak model yang ia lipat, maka pada saat tertentu nanti akan muncul gagasan ingin membuat sesuatu dari teknik-teknik lipatan yang telah dikenalnya. Ini artinya ia belajar berkreasi untuk menghasilkan sesuatu.
3. Anak belajar berimajinasi
Model origami biasanya juga merupakan miniatur dari makhluk dan benda-benda kebutuhan hidup. Modelnya merupakan hasil dari imajinasi para pembuatnya. Ada model-model yang sangat jelas atau sangat natural dari bentuk-bentuk atau model-model kehidupan. Namun ia juga kadang begitu abstrak sehingga lebih diperlukan imajinasi yang kuat untuk menangkapnya. Seorang anak akan belajar berimajinasi melalui origami ini. Apalagi ketika ia telah mencoba berkreasi dengan sesuatu bentuk yang baru tanpa meniru atau mengikuti diagramnya.
4. Anak belajar berkarya (seni)
Origami adalah seni melipat kertas, sehingga ketika seorang anak membuat origami berarti ia telah belajar berkarya (seni). Seni di sini bisa diartikan dalam dua hal, yakni pertama seni melipatnya (teknik dan cara melipatnya, prosesnya pada setiap tahapan, dsb), yang kedua adalah modelnya itu sendiri yang menjadi karya seni. Hasil karya origami jelas dapat dimasukkan dalam seni visual (visual art). Penggunaan jenis ragam dan warna kertas akan menjadikan model yang juga berbeda, termasuk komposisi yang diinginkannya.
5. Anak belajar menghargai/mengapresiasi
Bicara soal karya dan seni, tentu tidak lepas dari kata apresiasi dan penghargaan. Mempraktekkan origami berarti juga belajar mengapresiasi sebuah cabang karya seni dari seni visual. Seorang anak ketika berorigami berarti juga akan belajar mengapresiasi seni dan keindahan sejak dini, artinya ia juga belajar kehalusan jiwa.
6. Anak belajar membuat model
Origami adalah melipat kertas untuk membuat suatu model. Maka ketika seorang anak berorigami, ia sedang belajar membuat dari selembar kertas (atau lebih) menjadi sebuah model sesuai dengan kemampuan dan kesukaannya. Model dalam origami sangatlah banyak dan terus berkembang seiring dengan karya-karya baru yang dihasilkan oleh para pelipat. Namun model origami yang disukai anak biasanya adalah model origami tradisional yang berupa mainan (miniatur) binatang, pesawat (anak laki-laki), rumah dan alat rumah tangga (anak wanita) dan sebagainya. Model origami untuk anak ini, biasanya terdiri dari lipatan sederhana dengan sedikit tahapan dalam diagramnya. Namun tidak menutup kemungkinan, seorang anak yang telah banyak mencoba jenis lipatan akan bisa membuat model origami yang mempunyai tingkat kesulitan tinggi. Semakin banyak mencoba jenis lipatan, seorang anak tentu dapat membuat model origami lebih banyak lagi.
7. Anak belajar membuat mainannya sendiri
Banyak model origami yang dapat digunakan untuk bermain anak, misalnya kodok lompat, piring terbang, bola besar, pesawat-pesawat terbang, perahu, kuda berputar, suara tembakan, baling-baling, model peralatan rumah mulai lemari, kursi, meja dipan, dan lain-lain. Model-model itu umumnya dapat cukup dibuat dari selembar kertas saja. Untuk model tertentu yang berukuran besar bisa menggunakan kertas koran, seperti untuk membuat topi, bola besar, pesawat dan lain-lain. Perlu digaris-bawahi bahwa dalam berorigami, melipatnya itu sendiri adalah bagian dari bermain, setelah menjadi model, juga dapat dimainkan baik sendiri atau bersama.
8. Anak belajar membaca diagram/gambar
Belajar origami, selain melalui bimbingan seorang guru atau instruktur, dapat pula melalui animasi atau melalui diagram dari sebuah buku origami. Jadi seorang anak dapat membuat origami dengan mengikuti diagram yang ada dalam buku, meski harus dipilih dan disesuaikan dengan tingkat kemampuannya. Ini diharapkan agar anak tidak kesulitan untuk menyelesaikannya. Bahkan dianjurkan, bila kemampuan sang anak masih tahap pemula, baiknya senantiasa didampingi orang dewasa, agar ketika mendapat kesulitan ada yang membantu untuk menyelesaikannya. Yang pasti, semakin sering anak berlatih melalui diagram-diagram yang ada, maka akan meningkat pula kemampuan membaca diagramnya termasuk pengenalan terhadap jenis lipatan yang digunakan. Proses membaca diagram akan merangsang logikanya untuk memikirkan rangkaian tahapan hingga selesai.
9. Anak belajar menemukan solusi bagi persoalannya
Sebuah diagram origami terdiri dari beberapa tahapan, dimana setiap tahapannya merupakan rangkaian persoalan-persoalan lipatan yang beraneka ragam. Ketika seorang anak membuat origami dengan cara mengikuti alur sebuah diagram, sebetulnya dia sedang menghadapi persoalan pada setiap tahapan diagram itu. Bilamana dia berhasil mengikuti tahap demi tahap, artinya ia dapat menyelesaikan persoalan origami. Pada saat seperti itu, untuk anak umur tertentu akan berjalan logikanya, bagaimana mengikuti, membaca gambar, dan menyelesaikan persoalan-persoalan itu. Bahkan jika sudah mulai membuat karya sendiri, ia akan berusaha mencari solusi, hingga berhasil membentuk sebuah model origami yang diharapkan. Tentu ini latihan yang sangat baik bagi anak untuk belajar memecahkan persoalannya.
10. Anak belajar perbandingan (proporsi) dan berfikir matematis
Satu di antara yang sangat menentukan keindahan model origami adalah yang disebut dengan proporsi bentuk (perbandingan bentuk). Mengapa model ini atau itu mirip bentuk tertentu adalah karena teori proporsi. Tingkat keindahan sebuah model origami (meski sudah jelas modelnya) adalah juga sangat terletak pada proporsi ini. Di sisi lain jenis lipatan origami tradisional umumnya merupakan jenis lipatan berdasarkan teori matematis, artinya bukan asal lipatan (berbeda dengan banyak teknik untuk model-model kontemporer). Dengan demikian, aktifitas origami dapat membimbing seorang anak untuk mengenal konsep perbandingan bentuk dan sekaligus konsep matematis.
Sabtu, 25 November 2017
Berkreasi dengan stik es cream
kali ini saya ingin mengajarkan anak-anak untuk berkreasi dengan stik es cream, membuat rumah kemudian saya menambahkan rumput-rumput dan daun-daun yang di petik lansung dr halaman sekolah. Sebelumnya mereka harus memberi warna dulu stik es creamnya sesuai dengan warna rumah mereka, kemudian mereka menyusun stik es cream hingga menjadi bentuk sebuah rumah. untuk menambah cantik karya mereka harus menambahkan rumput-rumput serta daun-daun yang sebelumnya sudah mereka petik sendiri dari halaman sekolah.
Kegiatan ini mempunyai maksud dan tujuan untuk menumbuhkan kreatifitas yang dimiliki oleh anak-anak tersebut.Anak-anak bisa berimajinasi tentang rumah mereka sendiri, bereksplorasi dengan tanaman dan bermain dengan warna.
Kegiatan ini mempunyai maksud dan tujuan untuk menumbuhkan kreatifitas yang dimiliki oleh anak-anak tersebut.Anak-anak bisa berimajinasi tentang rumah mereka sendiri, bereksplorasi dengan tanaman dan bermain dengan warna.
Jumat, 24 November 2017
Ekstrakurikuler Marching Band
Ini salah satu kegiatan Ekstrakurikuler di sekolah kami "Marching Band" Untuk anak usia 4-5 tahun ini adalah salah satu kegiatan yang paling di sukai anak, walau terkadang mereka memukul semaunya tanpa mengikuti aturan dari sang pelatih hehehe.....Salah satu manfaat yang bisa didapatkan oleh para peserta kegiatan ini adalah melatih sense
mereka dalam hal bermusik. Secara ilmiah, musik akan merangsang
aktifnya otak bagian kanan yang cenderung jarang digunakan oleh mereka
yang sehari-harinya lebih banyak berkutat dengan logika dan angka.
Proses mengaktifkan otak kanan ini juga cukup bermanfaat dalam
merangsang kreatifitas setiap orang, sehingga keberadaan Marching Band
sebagai Ekstrakurikuler memang tidak bisa dianggap sepele.
Sabtu, 18 November 2017
Bermain balok-balok membuat bangunan

![]() |
Untuk bermain bebas terkadang saya mengarahkan anak-anak untuk bermain balok-balok, Permainan ini sama halnya dengan puzzle, karena termasuk dalam permainan
konstruktif. Dengan permainan ini anak diajak menyusun serta merangkai
balok-balok jadi sebuah bangunan menara, gedung, rumah, jalan, dan
sebagainya. keuntungan yang bisa didapatkan dari permainan balok? Berikut manfaat lainnya,
1. Matematika dan keterampilan kosakata. Permainan balok
akan mengembangkan kemampuan bahasa dan matematika Si Kecil.
Keterampilan bahasa berkembang karena anak belajar nama warna, bentuk,
dan ukuran balok. Sementara itu, kemampuan matematika didapatkan ketika
seorang anak belajar menambah atau mengurangi jumlah balok yang
diperlukan untuk membangun struktur.
2. Meningkatkan kreativitas. Membuat struktur berbeda dengan
menggunakan balok akan merangsang pikiran kreatif anak. Bukan hanya
kemampuan berpikir logis yang didapat, tetapi juga mampu berpikir
kreatif.3. Mendorong interaksi sosial. Ketika bermain balok bersama teman, anak terlatih untuk berbagi. Misalnya, jika si teman kekurangan balok tertentu, anak diminta untuk mau membagi balok yang dibutuhkan.
4. Melatih kesabaran. Menyusun balok satu demi satu tentu membutuhkan kesabaran. Ini akan mengajarkan anak untuk tak cepat putus asa, serta berlatih menyelesaikan pekerjaan dari awal sampai akhir demi mencapai sesuatu.
5. Mengembangkan rasa percaya diri anak. Ketika anak bermain susun balok dan bisa membuat bangunan, tentu anak akan merasa puas dan gembira lho, Mamas. Pencapaian ini akan menumbuhkan rasa percaya diri akan kemampuannya.
Jumat, 17 November 2017
Bermain peran "mengenal profesi"
kali ini saya memilih belajar Bermain Peran "MENGENAL PROFESI" dengan bermain peran merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam periode perkembangan diri anak, meliputi dunia fisik, sosial, dan komunikasi, Kegiatan bermain memengaruhi enam aspek perkembangan anak meliputi : aspek kognisi, sosial, emosional, komunikasi, kesadaran diri, dan keterampilan motorik. Bermain harus dilakukan dengan rasa senang, sehingga semua kegiatan bermain yang menyenangkan akan menghasilkan proses belajar pada anak.
Adapun tujuan bermain peran yaitu
a. Anak dapat mengeksplorasi perasaan-perasaan.
b. Memperoleh wawasan-wawasan tentang sikap, nilai dan persepsinya.
c. Mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
d. Mengembangkan kreativitas dengan membuat jalan cerita secara inisiatif anak.
e. Melatih daya tangkap.
f. Melatih daya konsentrasi.
g. Meltih membuat kesimpulan.
h. Memabantu mengambangkan kognitf.
i. Membantu perkembangna fantasi.
j. Menciptakan suasana yang menyenangkan.
k. Mencapai kemampuan berkomunikasi secara spontas.
l. Membangun pemikiran yang analitis dan kritis.
m. Membangun sikap positif.
n. Menumbuhkan sikap afektif melalui penghayatan isi cerita.
o. Untuk membawa situasi yang sebenarnya ke dalam bentuk simulasi.
p. Untuk membuat variasi yang menarik dalam kegiatan pengembangan.
Langganan:
Postingan (Atom)








